Feed on
Posts
Comments

woohoo

All that we needed was right|A threshold is breaking tonight

Open to everything happy and sad | Seeing the good when it’s all going bad | Seeing the sun when I can’t really see | Hoping the sun will at least look at me | Focus on everything better today | All that I needed I never could say | Hold on to people, they’re slipping away | Hold on to this while it’s slipping away

All that we needed tonight | Are people who love us and like | I know how it feels to need | Oh, when we leave here you’ll see

Open to everything happy and sad | Seeing the good when it’s all going bad | Seeing the sun when I can’t really see | Hoping the sun will at least look at me | Focus on everything better today | All that I needed I never could say | Hold on to people, they’re slipping away | Hold on to this while it’s slipping away

So long | So long

Open to everything happy and sad | Seeing the good when it’s all going bad | Seeing the sun when I can’t really see | Hoping the sun will at least look at me | Focus on everything better today | All that I needed I never could say | Hold on to people, they’re slipping away | Hold on to people, they’re slipping away

afrij|needalittlefaith

hectic

kerjakerasbagaikudadicambukdandidera
kerjakerasbagaikudadicambukdandidera
rararararararararararararara
ra
ra
ra
ra
rasakno koen!!!*

afrij|looking for another perfect day

*) rasakan kamu…

earth

Beberapa hari yang lalu saat jalan ke salah satu pertokoan di sebelah barat kota Surabaya tercinta ini, saya mampir ke toko dvd langganan. tentunya dvd bajakan dong ah… (sumpah saya kalo beli bajakan selalu beli bajakan film luar, bukan indonesia. selain karena kasian sama sineas2 indonesia, saya ogah aja beli dvd film indonesia…. ups!) Nah pas melayangkan pandangan pada salah satu rak di sudut toko itu, mata saya langsung tertuju pada sebuah plastik cd bergambar kaki beruang kutub dan bertuliskan “earth”.
FYI, film berjudul “earth” ini kan sebuah film dokumenter BBC enterprises. Di jaringan bioskop, film ini cuma tayang di jaringan Blitz Megaplex aja. Karena di Surabaya nggak ada megaplex, makanya seneng banget pas nemu dvd ini di toko langganan.

Ceritanya sebenernya tak lebih tentang kehidupan di planet bumi ini. Betapa kita seharusnya merasa begitu beruntung dengan bisa hidup di ‘lucky planet’ yang bernama bumi. Manusia sebagai makhluk paling berakal, memiliki andil yang begitu besar untuk menjaga planet ini atau malah menghancurkannya. Film ini dibuat untuk mengangkat isu global tentang pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan.

Baru kali ini ada film dokumenter yang bikin saya terharu sepanjang film. Bener bener bikin trenyuh nih film. Melihat si beruang berenang sendirian di antara bongkahan es yang mulai mencair terlalu cepat, melihat sang induk dan anak gajah yang terpisah sendirian dari rombongan besarnya saat berjalan ber ratus ratus kilo hanya untuk menuju sebuah delta bernama okavango, mengetahui kalau lebih dari sejuta ikan paus terbunuh setiap tahunnya oleh perburuan yang dilakukan manusia.

Hmmm… kalo dipikir pikir, jahat banget ya kita (manusia) ini kalau bener bener nggak menghargai dan mulai melestarikan alam. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan oleh kru film earth. Totalitasnya itu lho… syuting lima tahun, cuma jadi film dokumenter yang durasinya sekitar 1:35 menit. Tapi kalo kalian sudah liat filmnya sendiri, maka earth bukan cuma sebuah film dokumenter. Bisa jadi ini satu film yang dapat merubah pandangan kalian tentang bagaimana seharusnya bersikap sama lingkungan, sama bumi mu. You can start to learn how to love your earth..

Nonton deh, -menurut saya- film ini highly recommended. Apalagi kalo ada rejeki lebih mending koleksi dvd ori nya.

Ah…akhirnya, yang ditunggu tunggu datang juga..

Setelah hampir se-tahun-an (lebih dikit mungkin) menunggu status, doing the job yang kadang kadang makan hati karena cuma dikasih bekal nota dinas ini itu. Yang mana kadang sering kali merasa di dzalimi dengan beban kerja dan gambaran masa depan yang membingungkan. Ah…Finally… they officially placed me on that position.

-sigh-

Not too good. I’m not going anywhere…

saat semuanya bergerak acak. saya jadi salah satu dari sekian yang tak beranjak. seandainya ini keluar enam bulan yang lalu, saya yakin pasti endingnya bakal sempurna. Hahahahaha

Siapa saya minta minta?

beda sama yang lalu lalu. yang penting sekarang sudah mesti harus bersungguh sungguh. kalo posisi lama, reguler pasti empat tahunan. sekarang beda. lha wong kalo ndak mau kerja nggak naik pangkat je.

mesti belajar lagi, buka buka buku lagi, baca baca prosedur lagi, latihan maen watak (lagi?)…. hehehehehe

semangat lah…

amanah je… -hayah-

Brightsides:

  • You know what? Surabaya itu ada di tengah tengah Indonesia!! (maksut loh?)
  • Kuliah saya bisa selesai tepat waktu.
  • Fix. Udah nggak mikir macem macem lagi. Banyak rencana yang bisa mulai dijalankan.

Oh iya

buat teman teman yang sudah memberi saya ucapan selamat seharian ini, yang sudah mau bantuin nyari keberadaan saya, saya ucapkan terima kasih banyak… doakan saya betah sama pekerjaan ini.

buat saudara saudara senat (senatsib sepenanggungan) . selamat berjuang di posisi yang baru, di tempat yang baru ataupun lama. kerjo rek!!! semangat!!

Not too bad, I think.

senin besok mulai cari kaplingan baru ah… cubicle lama terlalu vulgar…

aih…

Saya punya beberapa teman. Boleh dibilang mereka ini sealiran sesat sama saya. Pertama nyambung temenan dulu cuma lewat jaringan email kantor, trus berlanjut kopdaran seminggu ke bromo, dan berlanjut sampai sekarang. Sampai sekarang saya nggak nemu alasan pasti kenapa saya masih bisa tahan sama mereka. Dan sepertinya emang nggak perlu alasan. Sampai sekarang. 

:lol

 

Si Om  memberi kabar:

penemuan terpenting selama wiken kemarin adalah: kelambu itu ternyata bahasa belanda… aslinya klamboe.
penting kan ya penting dong ah bow. hahahaha.

 

Heri nanya :

klo kelambu berasal dari bahasa blanda, jgn2 kata klambi jg sama yah?

 

 

Saya:
klambi sama klambu itu sepertinya sama…
mungkin ditujukan pada kain yang digunakan untuk menutupi sesuatu…

Kalo klamboe itu karena berakhiran U atau OE yang dimana saat kita mengucapkannya ostomatis bibir kita monyong dan dan membentuk lubang besar. Kalo klambi, karena berakhiran I, dimana saat mengucapkannya bibir kita mingkup, malumalu.

jadi ada teori :

lubang besar = luas = ukuran kain lebih luas = ukuran barang yang ditutupi lebih besar
lubang kecil = sempit = ukuran kain lebih sempit = ukuran barang yang ditutupin lebih kecil

jadi pantas kalo klambu itu untuk tempat tidur/ ruangan
kalo klambi untuk badan….

 

 

Entah tiba tiba si om merasa sangat senang :

Si om

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHHAHAAHA

naaaaah gitu dooooong… OM JADI SENANG.

HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA.

 
dan kalo boleh meminjam istilah dosen saya, bahasan semakin komprehensif saat si mbakyu ini ikut nimbrung.

 
Mbakyu senja :

Nah kalo Cuma buat nutupi setengah badan , kata klambi bermetamorfosa menjadi kemben…yang mana huruf vokal yang dipake adalah e
Karena huruf e letaknya diantara huruf u atau oe dengan hurung i…
Dimana tidak terlalu monyong juga tidak terlalu mringis..
Yang sedang-sedang saja kalo kata vety vera sih… ya jelaslah judulnya sedang-sedang saja …soale namanya pake huruf ve bukan ep… makanya sedeng2 aja mangapnya.. beda dengan adiknya…yang mana namanya alam, harus pake mangap nyebutnya, ya walopun belakangnya mingkem karena mateni ‘em’(translate:membunuh huruf M) …makanya lagu yang dinyanyikan judule mbah dukun….*mumet*

 

 

Artis manado pun bingung…

hmmm..
scroll up
scroll down
baca emailnya pak afree
baca emailnya mbak heny
ga ngerti
ga fokus
hilang arah
tersesat!

*gubrak*

 

 

Si om malah makin senang:

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
HAHAHAHAHAHA
HAHAHAHAHAHAHAHA
SINTING

 

 

 

-sigh-

Email2 dengan bahasan semacam ini hampir tiap hari masuk inbox saya. Dan saya baru tahu saat  nutri di masa masa injury time kantor, kirim email, bilang kalo sore ini kami sudah bikin 72 buah surat baru di inboxnya.
hehehehehe 

 

 

note:
Sudah Juli. Nggak terasa ya, udah lewat tengah tahun. Kata orang itu tandanya kalo kita lebih banyak merasa bahagia daripada sedih. Makanya waktu terasa cepat berlalu.

yeah I think so. It’s a rough day sometimes… but I’m happy, indeed.

 


1se·bal
a kesal (hati); mendongkol (krn kecewa, tidak senang, dsb): — aku melihat tingkah lakunya yg kasar itu; me·nye·bal·kan v menimbulkan rasa sebal; mengesalkan (hati): pelajaran itu - benar hingga kami selalu mengantuk; ke·se·bal·an n kekesalan; kedongkolan

ja•hat a sangat jelek, buruk; sangat tidak baik (tt kelakuan, tabiat, perbuatan): orang itu –hatinya, suka sekali menghina orang yg tidak mampu;
ber•ja•hat v 1 berbuat jahat (spt berzina); berbuat dosa; 2 bercakap-cakap menjelek-jelekkan nama baik orang lain; memfitnah(kan);
men•ja•hati v berbuat jahat thd: ia sering ~ orang yg tidak bersalah;
men•ja•hat•kan v 1 menyebabkan jahat; 2 menganggap jahat; memburukkan; menjelekkan;
pen•ja•hat n orang yg jahat (spt pencuri, perampok, penodong);
~ kambuhan penjahat yg melakukan kejahatan lagi setelah keluar beberapa lama dr lembaga pemasyarakatan; residivis; bramacorah: jika seorang ~ kambuhan tertangkap dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, dia akan berusaha meloloskan diri; ~ perang 1 orang yg menghasut atau menimbulkan perang; 2 anggota tentara musuh yg menganiaya atau membunuh penduduk negeri yg diduduki atau memerintahkan untuk melakukan demikian;
ke•ja•hat•an n 1 Huk perbuatan yg jahat: korupsi, merampok, dan mencuri merupakan ~ yg melanggar hukum; 2 sifat yg jahat; 3 dosa: hindarilah dirimu dr berbuat ~ di dunia ini; 4 perilaku yg bertentangan dng nilai dan norma yg berlaku yg telah disahkan oleh hukum tertulis;
~ kerah putih tindak pidana yg dilakukan oleh pegawai yg berprofesi, dr pemerintah atauswasta, untuk kepentingan pribadi atau golongannya (korupsi, penyalahgunaan tender, dsb); ~pers tindak pidana yg bersangkut-paut dng pekerjaan pers

hmm… (keluar tanduk)

doraemon sekolah

Boleh dibilang masa masa selepas SMA itu memang saat yang paling repot, paling ribet, paling riweuh kalo kata orang sunda. Bayangkan saja, baru sejenak mereka itu menghirup udara kebebasan setelah masa sekolah, menikmati euforia kelulusan, melepas putih abu abu nya, mereka kembali dihadapkan dengan segudang kesibukan. Mengikuti bimbingan belajar, mengikuti try out, Les bahasa, beli buku soal soal ujian, sampai kesibukan mendaftar ke perguruan tinggi itu sendiri. Bukan hanya mereka saja, orang tua mereka pasti juga sedikit banyak ikut riweuh dengan hal hal seperti ini. Bahkan, kalau kalian punya adik yang baru lulus SMA, pasti juga kalian juga ketiban kerjaan. Mulai dari ikut ikutan ribet nyari info info sekolahan sampai konsultasi soal pilihan jurusan.

Tapi seribet apapun, se pusing apapun yang namanya pendidikan itu kan penting, jadi ya harus diniati dong… dan saya, sebagai seseorang kakak yang adiknya baru lulus SMA, sesibuk apapun ya mesti kudu wajib mendukung lah. Ikut ikutan sibuk. Orangtua saya apalagi…

Jiv, Adik saya sih sebenernya sudah lulus UMB. Alhamdulillah diterima di FISIP UI. Tapi sebenarnya pilihan tersebut bukan menjadi pilihan utamanya. Makanya, sekarang pun dia masih rajin mendaftar ke tempat yang lain. Sebar jaring katanya. Dari mendaftar SMPTN, beberapa UM sekolah kedinasan, Ujian Lokal PTN sampai mengadu nasib untuk ikut Monbugakusho.

Namanya anak baru lulus SMA. Menemukan banyak hal yang baru, jadinya nggak jarang suka ada kejadian lucu.

Seperti SMS SMS yang dia kirimkan saat sedang berada di Konjen Jepang, jalan Sumatra untuk mendaftar Monbugakusho.

Maaf… tetap memakai bahasa jawa timuran. Tidak menerima jasa konversi bahasa atau terjemah.

-/- Piye?

+/+ Hahahaha untung gak nol putul aq bhs inggrise… mosok sak koran korane nang kene bhs jepang kabeh… wes..

-/- Hahahaha Yo wis sing tabah Jiv. Mripatmu di sipit sipit no ae Jiv…Sopo ngerti mengko jadi pertimbangan nilai pisan. Kqkqkqkqkqkq.

+/+ Sipit tapi ireng…lak maleh kayak korban bom atom Hiroshima ngono… akeh wong jepang nang kene je. Ada yang mirip Han Ji Eun. Jenenge Tamada Misae palingo yo?

-/- Han jie Eun Korea ndul… Nek wonge lemu delok’en wetenge. Nek ono sak’e nang wetenge paling yo iku sing jenenge Doraemon. Njaluko pintu kemana saja. Ntar aku ikut pinjam. Udah selesai kah?

+/+ Hahahaha jangan jangan mengko ono shinchan lan ninja hattori nang kene. Sebentar lagi masuk lagi jam 1.

-/- Ok. Ya wes gud lak. Ojo lali dungo. Mengko nek ketompo kan aku dadi duwe alas an jalan jalan ke Jepang. Hehehehe.

+/+ Yoi.

Hehehehe ya begitulah… demi masa depan.

Kalau kata Bapak, sih terserah. Dari dulu orang tua itu cuma ngasih gambaran, ngasih ilmu, ngasih dukungan dan doa. Semua pilihan itu ada di tangan sendiri berikut konsekuensinya. Soal nanti jadi apa? Itu sudah digariskan sama Yang Maha Kuasa.

Ibarat sebuah anak panah, biarkan ia melesat kemana pun dia akan melesat.

Ps:
Sambung doa buat adik saya yah… terimakasih!

hardest part

And the hardest part
Was letting go, not taking part
Was the hardest part
And the strangest thing
Was waiting for that bell to ring
It was the strangest start

I could feel it go down
It is sweet, I could taste in my mouth
Silver lining the clouds
Oh and I
I wish that I could work it out

And the hardest part
Was letting go, not taking part
You really broke my heart
And I tried to sing
But I couldn’t think of anything
And that was the hardest part

I could feel it go down
You left the sweetest taste in my mouth
You’re silver lining the clouds
Oh and I
Oh and I

I wonder what it’s all about
I wonder what it’s all about

Everything I know is wrong
Everything I do, it’s just comes undone
And everything is torn apart
Oh and it’s the hardest part
That’s the hardest part
Yeah that’s the hardest part

That’s the hardest part

::::::::::::::::::::::::::

akhirnya saya pilih skenario #1

Coldplay || bagus…

tiga skenario

Skenario #1

Membabatnya hampir habis, dan menyisakan sedikit panjang di bagian tengah. Ini dinamakan model ganteng males malesan. Keuntungannya adalah seberantakan apapun bentuknya di pagi hari, pasti masih enak dilihat. Lebih mudah juga buat saya, kalau tiba tiba ada keadaan ‘force majeur’ yang mengharuskan untuk tidak mandi dan menghemat air demi anak cucu nanti. Biasanya tinggal dibasahin, usap usap, berangkat. Kalau mau lebih stylish juga bisa. Disisir sedemikian rapi oke. Mau dibawa berdiri agak miring ke kanan atau ke kiri, juga oke. Dikumpulin di tengah juga nggak kalah sama abege abege sma jaman sekarang. Tapi, biasanya kalau sudah begini pada waktu waktu tertentu, terutama malam minggu, penyakit aneh saya akan kambuh. Keadaan akan menjadi sangat sulit saat saya harus menentukan arah kordinat ujungnya.

Skenario #2

Sekedar merapikan dan membuatnya biasa saja. Saya menamakannya model priyayi. Conservative dan sedikit old fashioned . Biasanya diikuti pujian orang orang terdekat karena mendadak saya jadi terlihat sistematis (?), tematis(?), terorganisir(?) dan rapih pih pih pih… Waktu yang diperlukan relative lebih cepat, karena hanya satu kordinat saja yang tersedia. Tapi yang seperti ini selain membuat saya terlihat jauh lebih dewasa (baca : tua) dari sepatutnya, juga akan memberangus kreativitas.

Skenario #3

Membiarkannya seperti sekarang saja. Meski dengan banyak hujatan dan cacian yang mendera tiada henti. Model gontang* ini membuat ujung bagian bawah yang melengkung benar benar terlihat seperti talang air. Mimikri. Jika bisa ditambahkan celana pendek khaki, kemeja putih dan sepeda kumbang, maka pagi hari akan membuatnya terlihat seperti milik seorang kurir surat jaman perang kemerdekaan. Atau seperti milik guru PPKn SMP yang hobinya ikut aduan ayam. Tapi begitu hari beranjak siang, maka bencana pun terjadi. Seekor singa pun bergentayangan…
Tapi enaknya dengan model begini, kalo sumpek, saya jadi punya hobi baru : ngayal sambil mlintir mlintir ujungnya.

Ada saran?

It’s been a bad (hair)day…
Please don’t take a picture…
It’s been a bad (hair)day…
Pleeeeeeeaaaase…..

*) gondrong tanggung

love to love it

Alhamdulillah.
Akhirnya selesai juga urusan hari ini. Lancar dan sesuai harapan. Ya… memang ini bukan yang pertama kali, tapi yang namanya mencapai tujuan untuk mendapatkan hasil, kalau usahanya dijalani sungguh sungguh, diniati dalam hati bener bener, pasti ‘marem nang ati’ kalo kata orang jawa. Impact nya besar sekali buat saya. Apalagi di waktu waktu seperti sekarang ini.
-sigh-

Untunglah saya pulang naik taksi malam ini…

……………..

Tadinya setelah semua beres, saya punya pikiran untuk pulang naik angkutan umum saja. Naik angkot sampai bungur, trus naik bis kota turun di darmo, trus naik angkot lagi turun depan gang deket masjid. Eh lhadalah, ternyata ada perubahan rencana. Dari Sidoarjo saya harus langsung meluncur dulu ke PacarKeling sebelum pulang ke kos. Udah malem juga dan demi mata-ini-yang-sudah-merem-melek-ngantuk, akhirnya saya pilih naik taksi saja.

Silver, dari name tag yang terpajang di dashboard saya bisa tahu si sopir bernama Pak Yanto. Kalau bukan karena Pak Yanto yang bertanya lagi tentang pilihan saya untuk naik tol atau lewat bawah, mungkin saya sudah terlelap. Plasss… ilang.

“Jadi lewat tol apa lewat bawah mas?”

“Lewat bawah aja pak, nggak usah ngebut deh. Nggak jadi keburu buru kok” saya ralat juga perintah untuk ngebut tadi.

Setelah dipikir pikir, jam segini jalanan juga udah mulai cair. Kalaupun lewat tol lebih cepet, paling juga lebih cepet 15-20menitan. Waktu segitu, kalaupun bisa dihemat paling paling juga abis buat bengong nonton tivi di kos sebelum ketiduran.Ya nggak? Aneh ya? Kadang orang begitu pelit sama waktu. Time is money, semua harus ‘for the sake of efficiency time’, semua harus terburu. Padahal kalo dipikir pikir sebenarnye dengan seperti itu kita kehilangan waktu itu sendiri.

“Pak Yanto, sudah lama pak pegang taksi?” Saya buka obrolan.

Pak Yanto agak kaget juga pas saya panggil namanya.Sebelum dia nanya, darimana saya tau namanya, langsung aja saya pintas.

“Kan di dashboard ada name tag nyaaaah… “

“Jarang ada yang panggil nama mas…”

“Yah… tapi ada kan?”

Ternyata saya nggak salah milih taksi. Pak Yanto ini suka ngobrol dan cerita juga, banyak omonglah. Alih alih ngantuk trus ketiduran, saya malah ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon ngisor nduwur. Nah lo…

Pak Yanto ini sudah 11 tahun jadi supir taksi. Delapan tahun pegang kemudi di perusahaan sebelumnya. Karena nggak betah dengan manajemen dan lingkungan tempatnya bekerja akhirnya pindah. Tiga tahun sampai sekarang. Kata Pak Yanto, yang sekarang ini, meski komisinya lebih kecil tapi kerjanya lebih bikin tenang. Saya sendiri mencoba untuk nggak lebih jauh membahas soal uang. Agak nggak enak aja kalau sudah masuk ke ranah itu. Piye gitu rasane?

“Putra berapa pak?”

“Satu mas, istri juga satu. Hehehe Mas sudah berkeluarga”

“Belom pak, kenapa? Ada gitu yang mau dikenalin ke saya”

“Hehehe.. ndak mas, emang mas nyari yang seperti apa?”
Kalo kata Pak Yanto, yang namanya suami istri itu mesti saling ‘pangerten’ (mengerti keadaan masing masing). Jadi istri mesti pangerten sama suami, sebaliknya suami juga mesti mengerti keadaan istrinya. Yang namanya rumah tangga itu kan bahagia dirasakan berdua, duka juga diselami bersama. Mungkin enggresnya itu “for better or worse till death do us part” kali yak…

Lalu Pak Yanto mulai cerita. Pak Yanto sehari bekerja dua sampai tiga shift untuk 24 jam. Yang namanya sopir, itu kan kadang rame angkutan, kadang sepi. Pernah malah seharian nggak dapet satu pun penumpang. Pernah juga kata dia dalam sehari dia cuma membawa pulang 500perak, malah pernah sehari tekor gara gara nggak dapet penumpang satupun dan dia mesti bayar makan di warung. Wolak walike urip kata Pak Yanto. Beruntung dia punya istri yang pangerten. Untuk meringankan bebannya, istrinya saat ini juga bekerja.

“Yang namanya wanita, istri, itu tugasnya berat banget ya mas… sungguh.”

“iya ya pak?” saya sok tau.

“lho iya toh mas… saya sudah mengalami sendiri”

Dulu setelah melahirkan putranya, Istri pak Yanto sempat jatuh sakit parah. Dua bulan lamanya terbaring di tempat tidur. Nggak bisa berbuat apa apa. Saat itu rasanya semua beban ada di pundaknya sendiri. Mencari nafkah, mengurus rumah, merawat bayi yang baru lahir. Ibaratnya, Pak Yanto punya peran ganda jadi suami merangkap istri. Dari peran gandanya itu lah ternyata Pak Yanto baru sadar kalo pekerjaan Istri itu ternyata memang tak kalah berat dari Suami. Apalagi seperti sekarang, dimana sang istri juga ikut bekerja untuk membantu meringankan bebannya.

“Jadi bukan cuma minta pengertian, saya juga mesti pangerten mas…” timpalnya.

“Pak pernah bosen nggak pak?” (agak ngerasa ada tata kata yang salah pas nanya ini)

“Sama? Istri apa nyopir?” (tuh kaaaaan….)

“Hehehehe ndak apaapa mas. Ya… namanya rumah tangga, bosen pasti maaaas… tapi kan ya mesti tanggung jawab. Wong ibadah. Wong cinta”

Hayaaaah… ternyata lucu jugak pak Yanto ini.

“Nyopir?”

“Iya iya… pernah itu. Tapi kalo saya cuma satu aja mas. Saya selalu berusaha mencintai pekerjaan saya. Kalo udah dasarnya cinta, semua itu rasanya enteng, enak njalaninya… Yang penting itu”

-Deg-

………………….

Bukan. Bukan saya tak cinta sama pekerjaan ini. Bukan saya tak berusaha mencintainya. Saya ingat, saya pernah jatuh cinta sama pekerjaan ini. Sering malah. Tapi memang sepertinya cinta saya sedang diuji akhir akhir ini. I don’t know, just don’t know. Don’t really know. Kenapa ya? kadangkala saya dihadapkan pada satu titik dimana saya begitu membencinya. Membenci melakukannya, membenci membicarakannya,membenci memikirkannya, membenci mereka reka masa depan di dalamnya.
Ouuugh… even to realize that I love it. I hate it sometimes…

note :
baru tau kalo di surabaya udah ada taksi pake BBG. tapi sayangnya cuma dua operator aja yang pake BBG. selain murah, polusinya kan juga kurang. tapi kenapa nggak ada yang mau investasi yak?

Older Posts »